Selasa, 24 Mei 2016

Laporan Laba Rugi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Laporan laba rugi adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih. Laporan laba rugi juga disebut sebagai suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara pendapatan-pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan. Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran untuk menilai prestasi perusahaan.
Maka arti penting dari laporan laba rugi yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hubungan laba rugi dan neraca ?
2.      Bagaimana konsep matching ?
3.      Apa definisi hasil, biaya dan laba ?
4.      Bagaimana pengakuan penghasilan ?
5.      Bagaimana bentuk penyajian laba rugi ?
6.      Bagaimana income smoothing ?
7.      Bagaimana perubahan akuntansi ?


1.3  Maksud dan Tujuan
Maksud dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi pada materi pembahasan “Laporan Rugi Laba”.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui hubungan laba rugi dan neraca
2.      Untuk mengetahui  konsep matching
3.      Untuk mengetahui definisi hasil, biaya dan laba
4.      Untuk mengetahui pengakuan penghasilan
5.      Untuk mengetahui bentuk penyajian lba rugi
6.      Untuk mengetahui income smoothing
7.      Untuk mengetahui perubahan akuntansi
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Laba Rugi Dan Neraca
Angka rugi laba merupakan informasi penting yang di cantumkan dalam laba rugi. Dalam neraca bisa ditampilkan melalui Pos Laba Ditahan atau Pos Laba Rugi. Laporan laba rugi ini adalah penjelasan lengkap dan lebih rinci tentang perhitungan laba rugi ini. Dalam menilai hubungan antara neraca dan laba rugi digunakan dua pendekatan:
1.      Pendekatan articulated
Laporan laba rugi dianggap sebagai subklasifikasi dari pos modal. Laba rugi hanya merupakan hasil matematis yang berasal dari perubahan modal dari satu periode ke periode lainnya. Pendekatan articulated memiliki 2 konsep yaitu: revenue expense approach dan asset laibility approach. Dalam konsep pertama, revenue expense, laporan laba rugi dianggap laporan yang paling utama semua transaksi dipandang sebagai pos revenue dan expense, semua transaksi dianggap sebagai pengakuan laba (matching), pengakuan laba dan alokasi ke laba rugi. Dalam konsep ini yang dipindah neraca adalah by product dari hasil pengakuan laba atau matching tadi. Artinya yang dicatat hanya deferred kredit (liabillities) dan deferred charges (asset).
2.      Pendekatan non articulated
Dalam pendekatan non articulated, neraca dan laporan laba rugi ini secara metemtis independen atu sama lain. Dalam pendekatan ini ada transaksi yang tidak mempengaruhi laba tetapi langsung dioper ke pos yang bukan hasil dan bukan biaya.
Contoh: kerugian sementara yang langsung dianggap merupakan penyesuaian terhadap unrealized capital.

2.2    Konsep Matching
Biaya adalah semua yang di bebankan kepada produk barang dan jasa yang akan dijual untuk mendapatkan revenue. Biaya itu tidak termasuk dalam produk itu bisa juga belum termasuk didalamnya karena mungkin saja mendahului atau dikeluarkan/accrued setelah selesainya produk, misalnya biaya penyusutan, perizinan, asuransi dan gaji.
Menurut teori matching concept, maka biaya harus dibebankan sesuai dengan pengakuan dan periode panghasilan. Dalam hal sukar melakukan matching, maka pembebanan harus dilakukan secara rasional dan sistematis.
Berdasarkan waktu pengeluaran/pembebanan biaya dan prinsip matching dikenal 2 konsep berikut :
1.    Direct atau Product Matching.
Pada saat penjualan atau hasil diketahui, hasil ini di match dengan biaya yang berkaitan dengan produk atau jasa yang dijual itu. Periode ini disebut juga biaya produk. Konsep ini adalah konsep yang mengabaikan beberapa masalah antara lain biaya yang belum bisa dikaitkan langsung dengan prosuk itu sehingga dalam konsep ini semua biaya lain diluar biaya produk atau jasa itu dianggap sebagai aktiva yang dialihkan ke periode yang akan datang.
2.    Indirect atau Periode Matching.
Disini matching dilakukan antara hasil yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan/dibebankan selama periode dimana digunakan bukan berdasarkan waktu perolehan atau pembayaran ini disebut biaya periodik. Sebenarnya ini bukan murni matching ini adalah approximation dari matching. Namun konsep ini dapet diterima karena beberapa alasan sebagai berikut :
a.    Banyak biaya periodik secara tidak langsung dikaitkan dengan biaya pada periode sekarang sehingga tidak berbeda antara matching menurut dasar penggunaan atau dasar waktu pelaporan.
b.    Untuk hal-hal tertentu sukar mengidentifikasi hubungan langsung antara jenis hasil dan biaya.
c.    Jika misalnya suatu biaya tidak bisa dianggap akan memberikan kontribusi terhadap hasil yang akan datang mengapa tidak dibebankan kepada periode sekarang.
d.   Untuk biaya yang bersifat berulang-ulang dan reguler, tidak ada pengaruh material terhadap masalah kapan dibiayakan.
e.    Banyak biaya bersifat joint cost yang sukar diasosiasikan untuk hasil tertentu sehingga memerlukan alokasi arbitrer dengan menggunakan dasar waktu.





2.3    Definisi Hasil, Biaya Dan Laba
1.      Hasil (Revenue).
Committee on Terminology mengidentifikasikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang dibebankan kepada langganan atau mereka yang menerima jasa. Definisi ini menggunakan pendekatan revenue expense.
2.      Biaya (Expense).
Menurut Committee on Terminology adalah semua biaya yang telah dikenakan dan dapat dikurangkan pada penghasilan. Biaya biasa nya dibagikan kepada 3 golongan, yaitu :
·      Biaya yang dihubungkan dengan penghasilan pada periode itu.
·      Biaya yang dihubungkan dengan periode tertentu yang tidak dikaitkan dengan penghasilan
·      Biaya yang karena alasan praktis tidak dapat dikaitkan dengan periode manapun.
3.      Gain and Loss.
-          Gain (laba/keuntungan dari ttransaksi tertentu yang sifatnya insidentil).
Diluar laba diatas, adalagi penggolongan laba diluar laba tersebut yaitu yang dikenal dengan istilah gain. Gain adalah naiknya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik.
-          Losses (rugi dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil) :
Losses adalah turunnya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari seluruh transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik (prive).
4.      Laba Rugi
Menurut Committee on Terminology, laba adalah jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Menurut APB statement mengartikan laba (rugi) sebagai kelebihan (defisit) pengahasilan diatas biaya selama satu periode akuntansi.
Dari definisi dua pertama, dapat dilihat dengan jelas bahwa definisi itu condong pada pendekatan revenue expense approach, sedangkan definisi tarkhir cenderung asset liabillity approach.

2.4    Pengakuan Penghasilan
Kapan revenue dianggap sebagai penghasilan. Secara teoritis pertanyaan ini dapat dijawab sebagai berikut. Dalam hal waktu yang dimaksud disini ada 4 alternatif, yaitu :
-       Selama produksi
-       Pada saat produksi selesai.
-       Pada saat penjualan.
-       Pada saat penagihan kas.

2.5    Bentuk Penyajian Laba Rugi
1.     All Inclusive Income Dan Normal Operating
Perbedaan pendapat mengenai apakah suatu pos disajikan dalam laporan laba rugi atau dalam laporan laba ditahan membedakan penyajian laporan laba rugi menjadi:
a.    Normal operating income
Berpendapat bahwa yang dicantumkan dalam laporan laba rugi hanyalah pendapatan yang berasal dari kegiatan normal sedangkan pos yang berasal dari kegiatan yang tidak biasa dicantumkan saja dalam laporan laba ditahan. Sehingga laba di bottom line adalah laba normal.
b.   All inclusive income
Berpendapat bahwa semua income yang berasal dari kegiatan normal dan kegiatan insidentil dicantumkan dalam laporan laba rugi dan hasil akhirnya saja yang dilaporkan ke laporan laba ditahan.
2.      Single Step Dan Multiple Step
a.    Single step
Di dalam laporan Laba/Rugi bentuk Single Step, semua Pendapatan dikelompokkan tersendiri di bagian atas dan dijumlahkan, kemudian semua beban dikelompokkan tersendiri di bagian bawah dan dijumlahkan. Artinya jumlah pendapatan dikurangi jumlah beban, selisihnya merupakan laba bersih atau rugi bersih.
Jadi: Pendapatan Jasa – Beban2 = Laba/Rugi
Contoh Formatnya:
b.   Multiple step
Di dalam laporan Laba/Rugi bentuk Multiple Step, Pendapatan dibedakan menjadi pendapatan usaha dan pendapatan lain-lain, demikian halnya dengan beban dibedakan menjadi beban usaha dan beban lain-lain. Pendapatan dan beban di sajikan pertama kemudian pendapatn dan beban lain-lain disajikan kemudian.
Format bentuk Multiple Step:
2.6    Income Smoothing
Income Smoothing adalah bentuk manajemen pendapatan yang merefleksikan akibat atau hasil ekonomi, bukan karena hasil-hasil tersebut, melainkan karena manajemen menghasilkan kualitas laba atau keuntungan yang lebih rendah karena pendapatan tidak menggambarkan kinerja ekonomi suatu bisnis selama periode tertentu.
Income Smoothing tidak tergantung pada kecurangan dan distorsi atau perubahan, melainkan pada peluang yang muncul dalam alternatif prinsip-prinsip akuntansi transaksi yang diterima dan penyebarannya.
Teori Efficiency Market Hypothesis (EMH) menyebutkan bahwa laporan keuangan dapat mempengaruhi pasar modal. Ini menunjukkan betapa pentingnya peranan laporan keuangan. Karena pentingnya laporan keuangan ini di masyarakat barat khususnya, maka menunjang manajemen melakukan hal-hal yang mengubah laporan laba rugi untuk kepentingan pribadinya, seperti mempertahankan jabatan atau mendapatkan bonus yang tinggi. Biasanya laba yang stabil di mana tidak banyak fluktuasi atau variance dari suatu periode lain dinilai sebagai prestasi baik. Upaya menstabilkan laba ini disebut income smoothing.
Income Smoothing biasanya dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
1. Mengatur waktu kejadian transaksi.
2. memilih prinsip atau metode alokasi.
3. mengatur penggolongan antara laba operasi normal dan laba yang bukan dari modal normal.
Tidak semua negara menganggap Income Smoothing ini merupakan pekerjaan haram. Swedia misalnya membenarkan perlakuan ini sepanjang dibuat secara transparan dan memang pada hakikatnya hasilnya sama dalam jangka panjang.

2.7    Perubahan Akuntansi
Perubahan prinsip akuntansi bukan hanya mempengaruhi laba rugi periode berjalan, tetapi juga periode yang lalu. Perubahan ini ada 3 yaitu :
1.      Perubahan dalam Prinsip Akuntansi.
Perubahan ini timbul dari penerapan prinsip akuntansi yang baru yang berbeda dari prinsip yang dianut sebelumnya,
2.      Perubahan dalam Taksiran.
Dalam akuntansi kita sering melakukan taksiran, misalnya taksiran umur dan taksiran deposit barang tambang setelah beberapa lama kita mendapat informasi yang baru sehingga merubah taksiran yang lama disebut perubahan taksiran dalam akuntansi.
3.      Perubahan dalam Laporan Entitas.
Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari perubahan yang materiil terjadi dalam entitas yang sebelumnya dilaporkan melalui laporan keuangan.

PSAK memberi pedoman terhadap perubahan akuntansi ini sbb :
1.         Pengaruh kumulatif dari perubahan ke prinsip akuntansi yang baru dilaporkan dalam perhitungan laba rugi periode berjalan, dan disajikan diantara pos biasa dan laba bersih.
2.         Untuk perubahan penilaian persediaan dari atau ke metode LIFO di mana pengaruh kumulatif umumnya sulit ditentukan.
3.         Laporan keuangan harus dinyatakan kembali secara retroaktif untuk perubahan berikut ini :
a.    Perubahan dalam periode akkuntansi untuk kontrak pembangunan jangka panjang.
b.    Perubahan ke atau dari metode biaya penuh dalam industri ekstraktif.
4.         Sifat dan alasan dilakukan perubahan dalam kebijakan akuntansi harus diungkapkan dalam catatan atas laporan kuangan periode terjadinya perubahan.













BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
1.      Dalam menilai hubungan antara neraca dan laba rugi digunakan dua pendekatan , yaitu pendekatan articulated dan pendekatan non articulated
2.      Berdasarkan waktu pengeluaran/pembebanan biaya dan prinsip matching dikenal 2 konsep berikut : direct atau product matching, indirect atau periode matching
3.      Hasil (Revenue) sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang dibebankan kepada langganan atau mereka yang menerima jasa.
4.      Biaya (Expense) adalah semua biaya yang telah dikenakan dan dapat dikurangkan pada penghasilan.
5.      Laba (rugi) sebagai kelebihan (defisit) pengahasilan diatas biaya selama satu periode akuntansi.
6.      Bentuk penyajian laba rugi adalah single step dan multiple step
7.      Income Smoothing adalah bentuk manajemen pendapatan yang merefleksikan akibat atau hasil ekonomi, bukan karena hasil-hasil tersebut, melainkan karena manajemen menghasilkan kualitas laba atau keuntungan yang lebih rendah karena pendapatan tidak menggambarkan kinerja ekonomi suatu bisnis selama periode tertentu.
8.      Perubahan prinsip akuntansi bukan hanya mempengaruhi laba rugi periode berjalan, tetapi juga periode yang lalu. Perubahan ini ada 3 yaitu : perubahan dalam prinsip akuntansi, perubahan dalam taksiran dan perubahan dalam laporan entitas.

3.2    Saran
Dari makalah ini mudah – mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya nya kita pribadi. Penyusun sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing, mohon masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah   di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.





Daftar Pustaka
Harahap, sofyan syafri. 2007. “Teori Akuntansi edisi revisi”. Jakarta: Grafindo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar