Senin, 31 Oktober 2016

Pusat Laba



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Laba perusahaan dijadikan sebagai ukuran dari efisiensi dan efektifitas dalam sebuah unit kerja dikarenakan tujuan utama dari pendirian perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu, laba suatu perusahaan khususnya pada pusat laba atau unit usaha yang menjadikan laba sebagai tujuan utamanya merupakan alat yang baik untuk mengukur prestasi pimpinan atau manajer atau dengan kata lain efisiensi dan efektifitas dari perusahaan dapat dilihat dari laba yang diraih unit tersebut.
Pengukuran laba dalam suatu pusat laba melibatkan penilaian berkaitan dengan bagaimana pendapatan dan pengeluaran diukur. Dalam hal pendapatan, pilihan metode pengakuan pendapatan sangatlah penting. Dalam hal pengeluaran, pengukuran dapat bervariasi mulai dari biaya veriabel yang dikeluarkan pusat laba sampai overhead korporat yang di alokasikan penuh, termasuk pajak penghasilan.
Penilaian-penilaian yang berhubungan dengan pengukuran pendapatan dan biaya-biaya harus dipertimbangkan tidak hanya berdasarkan pertimbangan perilaku. Kuncinya adalah memasukan beban dan pendapatan laporan manajer pusat laba yang dipengaruhi oleh tindakan manajer tersebut, bahkan jika tidak secara penuh.
Pusat laba adalah suatu bagian dalam organisasi dimana manajernya bertanggungjawab terhadap penghasilan dan biaya yang terjadi dalam bagiannya. Besar kecilnya laba bagian merupakan ukuran prestasi manajer pusat laba. Dalam pusat laba, seorang manajer mempunyai wewenang untuk mengendalikan kebijaksanaan penjualan dan biaya sekaligus. Pembentukan pusat laba memerlukan perincian tugas, pendelegasian wewenang dan tanggungjawab serta dukungan informasi agar manajer yang bersangkutan dapat merencanakan kegiatan-kegiatan pada unit kerjanya dengan baik.
Profitabilitas merupakan salah satu indikator yang penting untuk menilai suatu perusahaan. Profitabilitas selain digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga untuk mengetahui efektifitas perusahaan dalam mengelola sumber-sumber yang dimilikinya.
Rasio profitabilitas mengukur keberhasilan menajemen sebagaimana ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan oleh penjualan dan investasi serta membantu mengendalikan pendapatan, yaitu dengan cara memperbesar penjualan, memperbesar margin, mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pengeluaran biaya-biaya, dan atau kombinasi ketiga hal ini. Pertumbuhan profitabilitas ini ditandai dengan perubahan profit margin on  sales. Dengan tingkat profitabilitas yang tinggi berarti perusahaan akan beroperasi pada tingkat   biaya   rendah   yang   akhirnya   akan   menghasilkan   laba   yang   tinggi.   Dengan   semua   rasio profitabilitas, perbandingan dari sebuah perusahaan dengan perusahaan serupa dapat dinilai dengan pasti.

1.2  Rumusan Masalah
1)      Bagaimana pengertian dan konsep laba ?
2)      Bagaimana bentuk – bentuk pusat laba ?
3)      Bagaimana unit bisnis sebagai pusat laba ?
4)      Bagaimana pengukuran profitabilitas ?

1.3  Maksud Dan Tujuan
Maksud dari pembuatan karya tulis ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Pengendalian Manajemen pada materi pembahasan “ Pusat Laba ”.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian dan konsep laba
2.      Untuk mengetahui bentuk – bentuk pusat laba
3.      Untuk mengetahui unit bisnis sebagai pusat laba
4.      Untuk mengetahui pengukuran profitabilitas








BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Pengertian dan Konsep Pusat Laba
Pusat laba (profit center) merupakan pusat pertanggungjawaban yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan biaya-biaya dan menghasilkan pendapatan tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan tentang investasi. Pusat laba hanya bertanggungjawab terhadap tingkat laba yang harus dicapai. Misalnya: pimpinan anak perusahaan atau manajer divisi yang tidak diberi hak untuk mengambil keputusan tentang investasi. Laba merupakan ukuran kinerja yang berguna karena laba memungkinkan manajemen senior untuk dapat menggunakan satu indicator yg komprehensif, dibandingkan jika harus menggunakan beberapa indicator.
Seluruh pusat tanggung jawab diibaratkan sebagai suatu kesatuan rangkaian yang mulai dari pusat tanggung jawab yang sangat jelas merupakan pusat laba sampai pusat tanggung jawab yang bukan merupakan pusat laba. Manajemen harus memutuskan apakah keuntungan dari delegasi tanggung jawab laba akan dapat menutupi kerugiannya, sebagaimana dibahas berikut ini. Seperti halnya pilihan-pilihan desain system pengendalian manajemen, dalam ini tidak ada batasan-batasan yang jelas.
Suatu organisasi fungsional adalah organisasi di mana fungsi produksi atau pemasaran utama dilakukan oleh unit organisasi yang terpisah. Pembagian unit utama yang bertanggung jawab baik atas produksi maupun pemasaran, maka proses ini disebut dengan istilah divisionalisasi. Wewenang lengkap untuk menghasilkan laba tidaklah dilimpahkan ke satu segmen tunggal dalam suatu bisnis.

2.1.1 Kondisi-Kondisi Dalam Mendelegasikan Tanggung Jawab Laba
Banyak keputusan manajemen melibatkan pertimbangan biaya/pendapatan (expense/revenue  trade-off) yaitu keputusan untuk meningkatkan beban dengan harapan akan menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam pendapatan. Contohnya adalah tambahan beban iklan. Dua kondisi terjadinya trade-off:
1.    Manajer harus memiliki akses ke informasi relevan yang dibutuhkan.
2.    Harus ada semacam cara untuk mengukur efektivitasnya suatu trade-off.
Langkah utama dalam membuat pusat laba adalah menentukan titik terendah dalam organisasi di mana kedua kondisi di atas terpenuhi.
2.1.2   Kelaziman Suatu Pusat Laba
Perusahaan bisa mengambil konsep laba dan pengukuran profitabilitas untuk pengendalian manajemen. Pendekatan pusat laba membantu perusahaan mengukur profitabilitas cabang dengan lebih akurat. Pembagian tanggung jawab menjadi beberapa pusat laba baru dipersiap-kan guna memudahkan untuk fokus secara efektif pada setiap pangsa pasar global untuk dapat meraih pertumbuhan penjualan yang cepat. Penggunaan sistem pengendalian finansial mendapat banyak kritik, perusahaan menyadari kelemahan-kelemahan yang ada, dan banyak di antaranya yang mulai menggunakan suatu scorecard dengan kombinasi ukuran kinerja finansial dan nonfinansial.

2.1.3   Manfaat Pusat Laba
1)      Kualitas keputusan manajer lebih meningkat. Hal tersebut dikarenakan keputusan tersebut dibuat oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan.
2)      Kecepatan pengambilan keputusan operasional dapat meningkat karena tidak perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kantor pusat.
3)      Manajer kantor pusat dapat lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih luas, karena manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian.
4)      Manajer lebih bebas menunjukkan imajinasi dan inisiatifnya, karena hanya sedikit batasan dari korporat.
5)      Memberikan tempat pelatihan sempurna bagi kemampuan manajerial secara umum. Para manajer mendapatkan pengalaman dalam mengelola seluruh area fungsional, dan manajemen yang lebih tinggi mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi potensi pekerjaan yang tingkatnya lebih tinggi.
6)      Kesadaran terhadap laba semakin meningkat, karena para manajer yang bertnggung jawab atas laba akan selalu mencari cara untuk meningkatkan labanya.
7)      Memberikan informasi siap pakai kepada manajemen puncak tentang profitabilitas komponen-komponen individual perusahaan.
8)      Output yg siap pakai membuat pusat laba sangat responsif terhadap tekanan utk meningkatkan kinerja kompetitif.


2.1.4   Kesulitan yang Dihadapi Pusat Laba
1)      Pengambilan keputusan yang terdesentralisasi akan memaksa manajemen puncak untuk mengandalkan laporan pengendalian manajemen dan bukan wawasan pribadinya atas suatu operasi, sehingga mengakibatkan hilangnya pengendalian.
2)      Jika manajemen kantor pusat lebih mampu dan memiliki informasi yang lebih baik daripada manajer pusat laba pada umumnya, maka kualitas keputusan yang diambil pada tingkat unit akan berkurang.
3)      Perselisihan dapat meningkat karena adanya argumen-argumen mengenai harga transfer yang sesuai, pengalokasian biaya umum yang tepat, dan kredit untuk pendapatan yang sebelumnya dihasilkan secara bersama-sama oleh dua atau lebih unit bisnis.
4)      Unit-unit organisasi yang pernah bekerja sama sebagai unit fungsional akan saling berkompetisi satu sama lain. Peningkatan laba untuk satu manajer dapat berarti pengurangan laba bagi manajer yang lain. Dalam situasi yang seperti ini, seorang manajer dapat saja gagal dalam memberikan potensi penjualan ke unit lain yang lebih tepat untuk merealisasikannya; menimbun pegawai atau peralatan yang akan lebih baik, dari sudut pandang seluruh perusahaan, jika digunakan ke unit lain; atau membuat keputusan produksi yang memiliki konsekuensi biaya yang tidak diinginkan bagi unit lain.
5)      Divisionalisasi dapat mengakibatkan biaya tambahan karena adanya tambahan manajemen, pegawai, dan pembukuan yang dibutuhkan, dan mungkin mengakibatkan duplikasi tugas di setiap pusat laba.
6)      Para manajer yang kompeten mungkin saja tidak ada dalam organisasi fungsional karena tidak adanya kesempatan yang cukup untuk mengembangkan kompetensi manajemen umum.
7)      Mungkin ada telalu banyak tekanan atas profitabilitas jangka pendek dengan mengorbankan profitabilitas jangka panjang.
8)      Tidak adanya sistem yang memuaskan untuk memastikan bahwa optimalisasi laba dari masing-masing pusat laba akan mengoptimalkan laba perusahaan secara keseluruhan.



2.2    Bentuk – Bentuk Pusat Laba
1)   Unit bisnis (divisi) sebagai pusat laba, manajernya bertanggungjawab dan mempunyai kebijakan serta kendali terhadap pengembangan produk, proses produksi dan pemasaran serta perolehan produk, sehingga ia dapat mempengaruhi pendapatan dan biaya yang berakibat terhadap laba bersihnya. Proses tersebut menciptakan unit usaha yang bertanggungjawab terhadap manufaktur dan pemasaran suatu produk.
2)   Unit-unit fungsional sebagai pusat laba, pada perusahaan multibisnis setiap unit diperlakukan sebagai penghasil laba yang independen, tetapi bisa saja terorganisasi dalam bentuk fungsional, misalnya: Pemasaran, Manufaktur, dan Jasa. Misalnya, fungsional pemasaran dimana aktifitas pemasaran dijadikan sebagai pusat laba dengan cara:
a.     Membebankan biaya dari produk yang dijual melalui harga transfer dengan cara membuat Trade Off Pendapatan atau Biaya yang optimal.
b.    Harga transfer dibebankan kepada pusat laba berdasarkan biaya standar, memisakan kinerja biaya pemasaran terhadap biaya manufaktur, hal ini berpengaruh terhadap perubahan efisiensi di luar kendali manajer pemasaran. Kinerja proses manufaktur diukur terhadap biaya standar, dianjurkan untuk membuat evaluasi yang terpisah atas aktivitas-aktivitas seperti pengendalian mutu, penjadwalan produk, dan keputusan buat atau beli. Salah satu cara untuk mengukur aktivitas organisasi manufaktur secara keseluruhan adalah dengan menjadikannya pusat laba dan memberikan nilai berdasarkankan untuk harga jual produk dikurangi dengan estimasi biaya pemasaran.
3)   Unit-unit fungsioanl pendukung (support) sebagai pusat laba, hal ini meliputi unit-unit pemeliharaan, teknologi informasi, transportasi, tekhnik, konsultan, dan layanan yang dapat dijadikan pusat laba. Caranya yaitu:
a.       Membebankan biaya dari layanan yang diberikan dan menutupnya dari pendapatan atas layanan yang diberikan baik kepada internal dan eksternal.
b.      Manajer organisasi unit ini termotivasi untuk mengendalikan biayanya agar pelanggannya tidak meninggalkan, di samping itu konsumen termotivasi untuk membuat keputusan pakah jasa yang diterima telah sesuai dengan harganya.
Unit bisnis tersebut membebankan biaya pelayanan yang diberikan, dengan tujuan finansial untuk menghasilkan bisnis yang mencukupi sehingga pendapatan setara dengan pengeluaran. Perusahaan yang melakukan pembebanan “berdasarkan penggunaan” mungkin memperlakukan unit tersebut sebagai pusat laba.
4)      Organisasi lainnya sebagai pusat laba meliputi organisasi cabang pada area geografis tertentu yang manajernya tidak mempunyai tanggung jawab manufaktur atau pembelian dan profitabilitasnya merupakan satu-satunya ukuran kinerjanya. Contohnya: Toko-toko rantai ritel, restaurant cepat saji (fast food) dan hotel-hotel pada rantai hotel.

2.3    Unit Bisnis Sebagai Pusat Laba
Para manajer sebagai penanggung jawab pusat laba memiliki kendali atas pengembangan produk, proses produksi dan pemasaran, yang kemudian berperan untuk mempengaruhi pendapatan dan beban sehingga dapat dianggap bertanggung jawab atas laba bersih. Namun wewenang seorang manajer dapat dibatasi dengan berbagai cara.
2.3.1 Batasan atas Wewenang Unit Bisnis
Dari konsep pusat laba, manajer unit bisnis akan memiliki otonomi seperti presiden dari suatu perusahan independen. Meskipun demikian, dalam praktek sehari-hari, otonomi semacam ini tidak pernah ada. Wewenang yang diberikan oleh dewan direksi  kepada CEO didelegasikan ke manajer unit bisnis, maka berarti bahwa manajemen senior melepaskan tanggung jawab sendiri. Akibatnya, struktur unit bisnis  mencerminkan trade-off antara otonomi unit bisnis dan batasan perusahaan. Hal utama yang harus dipertimbangkan adalah adanya batasan atas wewenang manajer unit bisnis. Batasan dapat muncul dari unit bisnis lain maupun dari manajemen korporat.

1)   Batasan dari unit bisnis lain
Masalah utama akan terjadi ketika suatu unit bisnis harus berurusan dengan unit bisnis yang lain sehingga ada 3 keputusan yang harus dilakukan yaitu:
a.       Keputusan produk (barang atau jasa apa saja yang harus dibuat dan dijual)
b.      Keputusan pemasaran(bagaimana, dimana dan berapa jumlah barang/ jasa yang akan  dijual)
c.       Keputusan perolehan (procurement) atau sourcing (bagaimana mendapatkan atau memproduksi barang atau jasa)
Jika seorang manajer unit bisnis mengendalikan ketiga aktivitas tersebut, biasanya tidak akan ada kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab laba dan mengukur kinerja. Pada umumnya semakin terintegrasi suatu perusahaan maka akan semakin sulit melakukan tanggung jawab pusat laba tunggal untuk ketiga aktivitas tersebut dalam lini produk yang ada.
2)   Batasan Dari Manajemen Korporat
Dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:
1.      Batasan yang timbul dari pertimbangan-pertimbangan strategis.
2.      Batasan yang timbul karena adanya keseragaman yang diperlukan.
3.      Batasan yang timbul dari nilai ekonomis sentralisasi.

Perusahaan-perusahaan mengenakan batasan pada unit-unit bisnis karena kebutuhan akan keseragaman. Pada umumnya, batasan korporat tidak menimbulkan permasalahan yang fatal dalam suatu struktur yang terdesentralisasi selama hal itu dikemukakan secara eksplisit.
Hampir semua perusahaan mempertahankan beberapa keputusan finansial, pada tingkat korporat, setidaknya untuk aktivitas-aktivitas domestik. Akibatnya, salah satu batasan utama atas unit bisnis berasal dari pengendalian korporat terhadap investasi baru. unit usaha yang ada harus saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan bagian dari dana yang tersedia. Oleh karena itu, suatu bisnis dapat menemukan bahwa rencana ekspansinya gagal karenaada manajer dari unit bisnis  tersebut memiliki program yang lebiih menarik. Manajemen korporat juga mengenakan batasan lainnya. Setiap unit bisnis memiliki  suatu perjanjian yang menyatakan aktivtas-aktivitas pemasaran dan/atau produksi yang boleh dilaksanakan, dan unit bisnis tersebut harus menjaga untuk tidak beroperasi di luar perjanjian tersebut, meskipun jika unit bisnis tersebt melihat kesempatan laba dengan melakukan hal itu. Selain itu, pemeliharaan citra korporat juga memerlukan batasan atas kualitas produk atau atas aktivitas-aktivitas hubungan masyarakat.

2.4          Pengukuran Profitabilitas
Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dalam mengevaluasi suatu pusat laba. Pertama adalah pengukuran kinerja manjemen, yang memiliki fokus pada bagaimana hasil kerja para manajer. Pengukuran ini digunakan untuk perencanaan (planning), koordinasi (coordinating), dan pengendalian (controlling) kegiatan sehari-hari dari pusat laba dan sebagai alat untuk memberikan motivasi yang tepat bagi para manajer. Yang kedua adalah ukuran kinerja ekonomis, yang memiliki fokus pada bagaimana kinerja pusat laba sebagai suatu entitas ekonomi. Maksud dari kedua ukuran diatas berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, laporan kinerja manjemen suatu toko cabang dapat memperlihatkan bahwa manajer toko tersebut memiliki kinerja yang sangat baik; tetapi laporan kinerja ekonomisnya dapat memperlihatkan bahwa toko tersebut kehilangan posisinya di pasar dan harus ditutup karena adanya kondisi persaingan dan ekonomi yang tidak menguntungkan di wilayah tersebut.

2.4.1   Konsep Laba untuk Ukuran Kinerja Pusat Laba
1.      Margin Kontribusi / Contribution Margin
Margin kontribusi menunjukan rentang (spread) / selisih antara pendapatan dari penjualan dengan beban variabel. Alasan utama mengapa ini digunakan sebagai alat pengukur kinerja manajer pusat laba adalah bahwa karena beban tetap (fixed expense) berada di luar kendali manajer tersebut, sehingga para manajer harus memusatkan perhatian untuk memaksimalkan margin kontribusi.
2.      Laba Langsung / Direct Profit
Laba langsung (direct profit) mencerminkan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba perusahaan. Ukuran ini menggabungkan seluruh pengeluaran pusat laba, baik yang dikeluarkan oleh atau dapat ditelusuri langsung ke pusat tersebut tanpa memperdulikan apakah pos-pos ini ada dalam kendali manajer pusat laba atau tidak. Meskipun demikian, pengeluaran yang terjadi di kantor pusat tidak termasuk dalam perhitungan ini.  

Laba Langsung = Penjualan – (Beban Variabel + Beban Tetap)
atau
Laba Langsung = Margin Kontribusi – Beban Tetap ( yang terdiri dari beban pokok penjualan, beban pemasaran, dan beban administrasi umum ).

Kelemahan dari pengukuran laba langsung adalah bahwa ia tidak memasukan unsur manfaat dari biaya-biaya kantor pusat.

3.      Laba yang Dapat Dikendalikan / Controllable Profit
Pengeluaran-pengeluaran kantor pusat dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu : dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Yang termasuk dalam kategori pertama dalah pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikendalikan, paling tidak pada tingkat tertentu, oleh manajer unit bisnis.
Laba Terkendali = Laba Langsung – Biaya Kantor Pusat Terkendali

4.      Laba Sebelum Pajak / Profit Before Tax
Dalam ukuran ini seluruh overhead korporat dialokasikan ke pusat laba berdasarkan jumlah relatif dari beban yang dikeluarkan oleh pusat laba.
Laba Sebelum Pajak = Laba Terkendali - Alokasi Biaya Kantor Pusat
Ada dua argumen yang menentang alokasi ini yaitu :
1.      Pertama, karena biaya-biaya yang dikeluarkan oleh staf di departemen korporat seperti bagian keuangan, akuntansi, dan bagian sumber daya manusia tidak dapat dikendalikan oleh manjer pusat laba, maka manajer tersebut sebaiknya tidak dianggap bertanggung jawab untuk biaya tersebut.
2.      Kedua, sulit untuk mengalokasikan jasa staf korporat dengan cara yang wajar mencerminkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh setiap pusat laba.
Jika pusat laba dibebankan dengan sebagian overhead korporat, maka hal ini harus dihitung berdasarkan biaya yang telah dianggarkan, dan bukan biaya aktual, di mana kolom ”anggaran” dan ”aktual” dalam laporan kinerja pusat laba menunjukan jumlah yang hampir sama untuk pos khusus ini.




5.      Laba bersih / Net profit after tax
Pengukuran laba terakhir adalah menggunakan laba bersih setelah pajak, yaitu Laba sebelum pajak – Pajak penghasilan pusat laba yang bersangkutan.
Laba Bersih = Laba Sebelum Pajak – Pajak
Ada dua argumen utama yang menentang penggunaan ini:
1.      Laba setelah pajak sering kali merupakan persentase konstan atas laba sebelump pajak, dalam kasus mana tidak dapat manfaat dengan memasukan unsur pajak penghasilan.
2.      Karena banyak keputusan yang mempengaruhi pajak penghasilan dibuat dikantor pusat, maka tidaklah tepat jika para manajer pusat jika harus menanggung konsekoensi dari keputusan-keputuan tersebut. Untuk mengalokasikan beban pajak penghasilan kepusat-pusat laba, tidak hanya untukmengukur laba ekonomis tetpi juga umtuk memotivasi manajer untuk meminimalkan  beban pajak.

2.4.2   Pendapatan
Pada umumnya, sumber pendapatan perusahaan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pendapatan usaha (operasi) dan pendapatan bukan dari usaha (non operasi). Pendapatan usaha merupakan sumber pendapatan utama bagi suatu perusahaan yang dihasilkan dari penjualan barang atau jasa hasil produksi perusahaan. Sedangkan pendapatan non usaha dapat bersumber dari kegiatan, seperti hasil penjualan aktiva, hasil investasi eksternal yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
Sumber pendapatan usaha perusahaan sangat bergantung pada karakteristik perusahaan. Dalam hal ini, ada perusahaan yang beroperasi hanya satu lini bisnis dan ada pula yang lebih dari satu unit bisnis (terdiversifikasi). Pada perusahaan yang memiliki satu lini bisnis biasanya sumber pendapatan usahanya hanya satu. Sedangkan perusahaan yang terdiversifikasi biasanya sumber pendapatannya lebih dari satu. Dewasa ini, hampir semua perusahaan memiliki unit bisnis yang terdiversifikasi sehingga sumber pendapatan usaha juga lebih dari satu.




Analisis ini bertujuan untuk membantu menganalisis:
1.      Pertumbuhan penjualan
Analisis tren atau kecenderungan atas penjualan setiap segmen berguna dalam menilai profitabilitas. Pertumbuhan penjualan sebagai hasil dari satu atau lebih faktor, seperti perubahan harga, perubahan volume penjualan, akuisisi, dan perubahan nilai tukar.
2.      Pertumbuhan aktiva
Analisis tren atau kecenderungan pada aktiva setiap segmen adalah relevan untuk analisis profitabilitas. Ini dilakukan untuk menganalisis tingkat efektivitas pengelolaan aktiva atau investasi dalam menghasilkan pendapatan.
3.      Profitabilitas
Pengukuran laba operasi terhadap penjualan dan laba operasi terhadap aktiva setiap segmen berguna dalam menganalisis profitabilitas.

·      Ketahanan Sumber Pendapatan Perusahaan
Ketahanan pendapatan dapat digambarkan oleh stabilitas dan kecenderungan (trend) pendapatan. Hal ini penting sebagai dasar untuk menganalisis profitabilitas suatu perusahaan. Pada bagian ini dapat digunakan dua alat analisis untuk menilai ketahanan pendapatan yaitu: (1) analisis trend (trend analysis), dan (2) evaluasi terhadap diskusi dan analisis manajemen (Management’s Discussion and Analysis = MD&A).
1.    Analisis tren (trend analysis) terhadap pendapatan
Analisis tren merupakan suatu metode yang berguna dalam menilai ketahanan pendapatan, baik secara keseluruhan maupun segmen. Analisis ini menjadi dasar pertimbangan untuk menganalisis beberapa hal sebagai berikut:
a.    Sensitivitas pendapatan terhadap kondisi bisnis.
b.   Antisipasi permintaan melalui produk baru atau pengembangan produk baru.
2.    Diskusi dan Analisis Manajemen (Management’s Discussion and Analysis) terhadap pendapatan
Diskusi dan Analisis Manaemen (MD&A) terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan berguna dalam analisis ketahanan pendapatan. Informasi ini membantu dalam memahami dan mengevaluasi perubahan akun-akun keuangan suatu perusahaan dari waktu ke waktu termasuk pendapatan. Manajemen membutuhkan laporan atas perubahan komponen-komponen pendapatan dan biaya yang relevan untuk memahami aktivitas operasi suatu perusahaan. Manajemen juga perlu mengetahui mengenai hubungan antara pertumbuhan pendapatan terhadap peningkatan harga, volume, inflasi, atau pengenalan produk baru. Manajemen didorong untuk menggambarkan hasil secara finansial, tinjauan atas informasi masa akan datang, serta kecenderungan dan kekuatan yang tidak tampak dalam laporan keuangan.

·      Hubungan antara Pendapatan, Piutang, dan Persediaan
Hubungan antara pendapatan dengan piutang usaha serta pendapatan dengan persediaan akan memberikan petunjuk yang penting untuk mengevaluasi hasil operasi serta berguna dalam memprediksi kinerja di masa yang akan datang.
1.      Hubungan pendapatan dengan piutang usaha
Analisis hubungan antara pendapatan dan piutang usaha penting dalam mengevaluasi kualitas laba. Sebagai contoh, jika piutang usaha tumbuh pada tingkat yang melebihi pendapatan, kita perlu mengevaluasi untuk mengidentifikasi penyebabnya.
2.      Hubungan pendapatan dengan persediaan
Sebagaimana telah diketahui bahwa perputaran persediaan berhubungan dengan kualitas persediaan dan perputaran aktiva. Analisis terhadap komponen-komponen persediaan menunjukkan pendapatan dan kegiatan operasi di masa yang akan datang. Sebagai contoh ketika peningkatan barang jadi disertai oleh penurunan bahan baku dan/atau barang dalam proses maka dapat diperkirakan bahwa akan terjadi penurunan produksi.

·      Menganalisis Biaya dan Marjin Laba
Karakteristik biaya dalam suatu perusahaan ada yang bersifat variabel dan ada yang bersifat tetap. Biaya yang bersifat variabel dapat diartikan sebagai biaya yang nilainya berubah-ubah sejalan dengan perubahan tingkat kegiatan produksi, misalnya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan biaya yang bersifat tetap dapat diartikan sebagai biaya yang nilainya tidak berubah walaupun tingkat kegiatan produksi mengalami perubahan, misalnya biaya gaji pimpinan, dll. Di samping biaya-biaya tersebut, ada juga yang disebut sebagai biaya semi-variabel. Biaya ini memiliki sifat variabel dan juga sifat tetap. Oleh karena itu, dalam analisis biaya dilakukan pemisahan mengenai komposisi variabel dan tetap.

·      Menganalisis Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (CoGS) merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sehubungan dengan perolehan output untuk siap dijual. Biaya-biaya ini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead (biaya-biaya tidak langsung).
Analisis terhadap harga pokok penjualan diperlukan dalam rangka menganalisis laba kotor (gross profit). Sementara laba kotor mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menutupi beban-beban operasi. Analisis perubahan laba kotor memberikan perhatian khusus terhadap faktor-faktor yang menyebabkan perubahan pada penjualan dan harga pokok penjualan. Analisis terhadap perubahan laba kotor biasanya dibentuk secara internal sebab membutuhkan data non masyarakat, seperti jumlah unit yang dijual, harga jual per unit, dan biaya per unit.
Untuk mengukur hubungan antara harga pokok penjualan dengan profitabilitas perusahaan digunakan alat ukur yang disebut marjin laba kotor. Ini hanya ditemukan pada jenis perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang. Sementara bagi jenis perusahaan jasa tidak ada harga pokok penjualan. Marjin laba kotor (gross profit margin) menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba kotor atas penjualan yang dilakukan. 

·           Menganalisis Beban-Beban Operasi
Beban-beban operasi merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan sehubungan dengan kegiatan pemasaran dan kegiatan administrasi, seperti beban-beban penjualan, beban depresiasi, beban pemeliharaan dan perbaikan, beban-beban administrasi dan umum. Analisis terhadap beban-beban operasi perusahaan diperlukan dalam rangka menganalisis laba operasi (operating profit) perusahaan. Sementara laba operasi mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menutupi beban-beban non operasi terutama beban-beban finansial atas pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan, seperti beban bunga atas pinjaman.
Untuk mengukur hubungan antara beban-beban operasi dengan profitabilitas perusahaan secara spesifik digunakan alat ukur marjin laba operasi (operating profit margin). Hasil pengukuran marjin laba operasi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba operasi atas penjualan yang dilakukan. Marjin laba operasi juga sekaligus untuk mengukur tingkat efisiensi pengeluaran atas beban-beban operasi perusahaan.
Peningkatan marjin laba operasi lebih  kecil dari peningkatan marjin laba kotor. Ini mengindikasikan bahwa:
1.    Peningkatan marjin laba operasi sebagai akibat dari peningkatan marjin laba kotor.
2.    Pengeluaran atas beban-beban operasi justru tidak efisien sehingga menurunkan profitabilitas perusahaan.

·      Menganalisis Beban-beban Non Operasi
Beban-beban non operasi merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan sehubungan dengan kegiatan pendanaan dan kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan operasi, seperti beban-beban pendanaan dan beban pajak. Analisis terhadap beban-beban non operasi diperlukan dalam rangka menganalisis laba bersih (net profit). Sementara laba bersih mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menutupi beban-beban pendanaan berupa beban dividen.
Untuk mengukur hubungan antara beban-beban non operasi dengan profitabilitas perusahaan secara spesifik digunakan alat ukur marjin laba bersih (net profit margin). Hasil pengukuran marjin laba bersih menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba bersih atas penjualan yang dilakukan setelah disesuaikan dengan pendapatan atau beban-beban lain.
Peningkatan marjin laba bersih lebih  besar dari peningkatan laba marjin laba operasi. Ini mengindikasikan bahwa:
1.    Peningkatan marjin laba bersih sebagai akibat dari akumulasi peningkatan marjin laba kotor dan marjin laba operasi.
2.    Pengeluaran atas beban-beban non operasi lebih efisien sehingga meningkatkan profitabilitas perusahaan.


·      Menganalisis Profitabilitas berdasarkan Investasi Perusahaan
Beberapa teknik dan pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis profitabilitas perusahaan antara lain adalah: pengembalian atas modal yang diinvestasikan (return on invested capital), pengembalian atas ekuitas pemegang saham biasa (Return on Common Shareholders’ Equity), dan pengembalian kas atas aktiva (cash return on assets).

Ø Analisis Pengembalian atas Modal yang Diinvestasikan (Return on Investment / ROI)
Analisis laporan keuangan mencakup penilaian terhadap risiko dan return. Analisis terhadap pengembalian atas modal yang diinvestasikan atau return on invested capital (ROIC) merupakan suatu analisis tentang kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan atas modal yang diinvestasikan. Jadi analisis ini menunjukkan keberhasilan perusahaan menggunakan pendanaan untuk menghasilkan laba, baik dana ditinjau dari penggunaan  maupun sumbernya.
Secara filosofis hubungan antara laba dengan modal yang diinvestasikan adalah bahwa investasi dilakukan untuk menghasilkan output yang selanjutnya output dijual untuk menghasilkan pendapatan dan akhirnya dari pendapatan tersebut diperoleh laba.
Pada dasarnya, tidak ada ukuran umum tentang modal yang diinvestasikan dalam menghitung tingkat keuntungan. Definisi tentang modal yang diinvestasikan bergantung pengguna laporan keuangan. Pengembalian atau return suatu perusahaan dapat dinilai dari perspektif total aktiva dan total pendanaan (kewajiban dan ekuitas). Apabila konsep modal yang diinvestasikan berdasarkan total aktiva maka hasil pengukuran adalah pengembalian atas aktiva atau yang lebih dikenal sebagai return on total assets (ROA). Hasil pengukuran ini adalah relevan untuk mengukur efisiensi operasi.
Laba bersih dan beban bunga sebelum pajak bersumber dari laporan laba rugi. Rata-rata aktiva bersumber dari neraca yang dihitung dari penjumlahan aktiva pada neraca dari dua periode kemudian dibagi dua. Rata-rata aktiva dapat juga digunakan data aktiva satu periode.
ROI merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau  mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan laba bersih. Juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
Kelebihan Return of Invesment (ROI) :
-  Merupakan alat ukur yang komprehensif (menyeluruh) dalam segala hal yang mempengaruhi neraca atau L/R (Laporan Keuangan).
-  Mendorong manajer memberikan perhatian pada hubnngan antara penjualan, biaya-biaya dan investasi
-  Mendorong efisiensi biaya.
-  Mudah dihitung dan dipahami.
-  Mengurangi Investasi pada operating assets yang berlebihan.
Kelemahan Return of Invesment (ROI) :
-  ROI tidak dapat digunakan sebagai dasar perbandingan antara perushaan bila terdapat perbedaan-perbedaan dalam penerapan itu sejenis .
-  Keputusan bisnis untuk meningkatkan ROI dapat menurunkan profit perusahaan (karena melakukan penjualan asset yang memiliki ROI di bawah standar).
-  Adanya fluktuatif nilai uang akan mempengaruhi nilai opereting aset dan profit margin.
-  Mendorong terjadinya myopic behavior,  yaitu manajer hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, yang justru akan membebani badan usaha keseluruhan secara jangka panjang.

Ø Pengembalian atas Ekuitas Pemegang Saham (Return on Equity/ ROE)
Pengembalian atas ekuitas pemegang saham biasa atau return on common shareholders’ equity (ROCE) juga lebih dikenal sebagai return on equity (ROE) merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Secara spesifik, ROCE menggambarkan sejauh mana produktivitas ekuitas saham biasa dalam menghasilkan laba bagi perusahaan.
Rasio ini digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini juga menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.
Rasio ini meperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif.
Kelebihan Return On Equity/ ROE
-          ROE memberikan gambaran profitabilitas perusahaan terhadap jumlah ekuitasnya. Semakin besar ROE maka semakin efektif sebuah perusahaan.

Kelemahan Return On Equity/ ROE
-          ROE tidak menggunakan jumlah hutang dalam perhitungannya.

Ø Pengembalian Kas atas Aktiva (Return On Asset / ROA)
Pengembalian kas atas aktiva atau cash return on assets (CROA) merupakan suatu alat analisis yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan aktiva yang diinvestasikan dapat menghasilkan kas dari kegiatan operasi atau ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari asset yang dimiliki perusahaan.
Keunggulan (Return On Asset / ROA)
-  ROA merupakan pengukuran yang komprehensif dimana seluruhnya mempengaruhi laporan keuangan yang tercermin dari rasio ini.
-  ROA mudah dihitung, dipahami, dan sangat berarti dalam nilai absolut.
-  ROA merupakan denominator yang dapat diterapkan pada setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas dan unit usaha.

Kelemahan (Return On Asset / ROA)
-  Pengukuran kinerja dengan menggunakan ROA membuat manajer divisi memiliki kecenderungan untuk melewatkan project-project yang menurunkan divisional ROA, meskipun sebenarnya proyek-proyek tersebut dapat meningkatkan tingkat keuntungan perusahaan ecara keseluruhan.
-  Manajemen juga cenderung untuk berfokus pada tujuan jangka pendek dan bukan tujuan jangka panjang.
-  Sebuah project dalam ROA dapat meningkatkan tujuan jangka pendek, tetapi project tersebut mempunyai konsekuensi negatif dalam jangka panjang. Yang berupa pemutusan beberapa tenaga penjualan, pengurangan budget pemasaran, dan pengguaaan bahan baku yang relatif murah sehingga menurunkan kualitas produk dalam jangka panjang.

Disini, perusahaan mengukur kinerja pusat laba domestic berdasarkanlaba bersih, yaitu jumlah laba bersih setelah pajak. Ada dua argument utama yang menentang penggunaan metode ini :
(1)      Laba setelah pajak sering kali merupakan persentase yang konstan atas laba sebelum pajak, dalam kasus mana tidak terdapat manfaat dengan memasukkan unsur pajak penghasilan
(2)      Karena banyak keputusan yang mempengaruhi pajak penghasilan dibuat di kantor pusat, maka tidaklah tepat jika para manager pusat laba harus menanggung konsekuensi dari keputusan-keputusan tersebut.
Perusahaan mengukur kinerja pusat laba domestik berdasarkan bottom line, yaitu jumlah pendapatan bersih setelah dikurangi pajak. Dengan cara ini perusahaan mengukur kinerja pusat laba dari jumlah pendapatan bersih setelah dikurangi pajak. Pengukuran laba terakhir adalah menggunakan laba bersih setelah pajak, yaitu laba sebelum pajak – pajak penghasilan pusat laba yang bersangkutan.

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
1.      Pusat laba (profit center) merupakan pusat pertanggungjawaban yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan biaya-biaya dan menghasilkan pendapatan tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan tentang investasi
2.      Batasan dapat muncul dari unit bisnis lain maupun dari manajemen korporat, antara lain: Batasan dari unit bisnis lain; Batasan dari manajemen korporat; dan Batasan Atas Wewenang Unit Bisnis.
3.      Pusat laba lainnya terdiri dari pemasaran, manufaktur, unit pendukung dan pelayanan, dan organisasi lainnya.
4.      Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dalam mengevaluasi suatu pusat laba, yaitu pengukuran kinerja manajemen dan pengukuran kinerja ekonomis.
5.      Konsep laba untuk ukuran kinerja pusat laba antara laian margin kontribusi, laba langsung, laba yang dapat dikendalikan, laaba sebelum pajak dan laba bersih
6.      Sumber pendapatan perusahaan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pendapatan usaha (operasi) dan pendapatan bukan dari usaha (non operasi).

3.2    Saran
Perusahaan bisa mengambil konsep laba dan pengukuran profitabilitas untuk pengendalian manajemen. Pendekatan pusat laba membantu perusahaan mengukur profitabilitas cabang dengan lebih akurat. Pembagian tanggung jawab menjadi beberapa pusat laba baru dipersiap-kan guna memudahkan untuk fokus secara efektif pada setiap pangsa pasar global untuk dapat meraih pertumbuhan penjualan yang cepat. Dengan tingkat profitabilitas yang tinggi berarti perusahaan akan beroperasi pada tingkat biaya   rendah yang akhirnya akan menghasilkan laba yang tinggi.  




Daftar Pustaka
Munawir, S. 2004. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Empat. Yogyakarta: Liberty.
Brigham , Houston. 2014. Dasar – dasar Manajemen Keungan. Edisi 11. Buku 1. Jakarta : Salemba Empat